Habar Kegiatan Desa

Baiwakan, Tradisi Menangkap Ikan yang Satukan Warga Desa Tanta di Musim Kemarau

Senin 27 Juli 2026 · 1 dilihat · 1 hari yang lalu
Baiwakan, Tradisi Menangkap Ikan yang Satukan Warga Desa Tanta di Musim Kemarau

Musim kemarau tidak hanya membawa suasana berbeda bagi masyarakat Desa Tanta, tetapi juga menghadirkan kembali sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari kebersamaan warga, yaitu "Baiwakan". Tradisi menangkap ikan secara bersama-sama ini menjadi momen yang selalu dinantikan masyarakat ketika debit air sungai mulai surut. Tradisi Baiwakan merupakan aktivitas menangkap ikan tanpa menggunakan alat pancing. Warga memanfaatkan berbagai peralatan sederhana seperti tangguk dan serokan untuk menangkap ikan yang berada di sungai. Sebagian masyarakat juga mengenal cara tradisional menggunakan akar tuba, yang digunakan secara terbatas untuk membuat ikan menjadi lemas atau pusing dalam beberapa saat sehingga lebih mudah ditangkap.

Tradisi ini kembali dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tanta pada Sabtu, 25 Juli 2026, mulai pukul 11.00 hingga 14.00 WITA. Kegiatan berlangsung di sepanjang Sungai Mangkusip, mulai dari wilayah RT 001 hingga RT 003 Desa Tanta. Begitu air sungai mulai surut, warga pun berbondong-bondong turun ke sungai untuk mengikuti aktivitas Baiwakan. Menariknya, kegiatan ini tidak mengenal batasan usia maupun gender. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua turut larut dalam keseruan menangkap ikan. Para warga pun tampak antusias menyusuri aliran sungai, membawa tangguk dan serokan masing-masing, sembari sesekali terdengar tawa dan keceriaan ketika berhasil mendapatkan ikan.

Berbagai jenis ikan berhasil diperoleh warga dalam kegiatan tersebut, di antaranya ikan nila, puyau, adungan, baung, serta berbagai jenis ikan lainnya yang hidup di perairan Sungai Mangkusip. Hasil tangkapan tersebut sebagian dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga, sehingga kegiatan Baiwakan tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Bagi warga Desa Tanta, Baiwakan bukan sekadar kegiatan menangkap ikan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun kebersamaan antarwarga. Masyarakat dari berbagai kalangan dapat berkumpul, berinteraksi, dan menikmati suasana kebersamaan tanpa memandang usia maupun latar belakang.

Tradisi Baiwakan juga menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dipertahankan dan diwariskan secara turun-temurun. Setiap musim kemarau tiba dan kondisi sungai mulai surut, masyarakat seakan memiliki kesempatan untuk kembali menghidupkan tradisi tersebut. Anak-anak dan generasi muda pun dapat mengenal budaya lokal sekaligus merasakan langsung pengalaman yang mungkin telah dilakukan oleh orang tua dan leluhur mereka sejak dahulu. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan tradisi seperti Baiwakan menjadi pengingat bahwa budaya dan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dari identitas sebuah desa. Tradisi ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dapat menjadi sumber kebahagiaan ketika dilakukan bersama-sama.

Pemerintah Desa Tanta mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga. Ke depan, diharapkan tradisi Baiwakan dapat terus dilestarikan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem Sungai Mangkusip, sehingga kegiatan ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga lingkungan dan keberlangsungan sumber daya ikan. Baiwakan adalah cerita tentang ikan yang ditangkap, tetapi lebih dari itu, ia adalah cerita tentang kebersamaan, kegembiraan, dan tradisi yang menyatukan warga Desa Tanta.

Dibuat Oleh : Tim Habar Desa Tanta